Duh! Anak Idap Gangguan Ginjal Akut Misterius Perlu Perawatan Berbulan-Bulan Hingga Bisa Pulih Total

Wecome Global Reporters24 di Situs Kami!

Global Reporters24 – Anak-anak yang menderita penyakit ginjal parah seringkali harus dirawat di rumah sakit selama beberapa minggu. Namun meski sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, masih ada beberapa anak yang masih membutuhkan perawatan di luar. Duh! Anak Idap Gangguan Ginjal Akut Misterius Perlu Perawatan Berbulan-Bulan Hingga Bisa Pulih Total

Dokter spesialis anak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dr. Eka Laksmi Hidayati, Sp A(K)., mengatakan banyak anak yang berhasil sembuh dari penyakit tersebut memiliki fungsi ginjal yang normal. Drama Korea Marry My Husband Semakin Tegang tapi Rating Episode 12 Merosot Hanya 10 Persen

“Kami melihat banyak pasien sembuh yang fungsi ginjalnya sudah pulih sepenuhnya. Oleh karena itu, pengobatan jangka panjang tidak lagi diperlukan,” kata dr. Hektar dalam jumpa pers, Jumat (14/10/2022). Gambar Anak Sakit (Envato Elements)

Sebagian besar pasien lain yang harus dirawat secara rawat jalan membutuhkan rata-rata 1-3 jam untuk pulih sepenuhnya, kata Dr. hektar. RSCM diakui sebagai pusat rujukan nasional bagi pasien gagal jantung.

Ia mengingatkan para orang tua agar mewaspadai bahaya yang mungkin menimpa anak hingga usia 18 tahun. Namun data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menunjukkan banyak bayi yang menderita penyakit ini.

Data juga tercatat di RSCM, 44 pasien penyakit paru obstruktif kronik berat dirawat, sebagian besar antara 1 hingga 2 tahun.

“Pasien yang dibawa pertama kali merupakan penyakit kronis,” kata Sekretaris Unit Kerja Koordinasi Nefrologi (UKK) Nefrologi IDAI.

Data terkini IDAI hingga 14 Oktober 2022 menunjukkan jumlah anak yang terkena gangguan ginjal berat bertambah menjadi 152 anak di 16 kabupaten. Meski baru dilaporkan pada Agustus-September tahun lalu, penyakit tersebut sudah ada sejak Januari 2022. Duh! Anak Idap Gangguan Ginjal Akut Misterius Perlu Perawatan Berbulan-Bulan Hingga Bisa Pulih Total

“Situasi saat ini sedang menurun, kita lihat puncak kasus terjadi pada bulan September, mudah-mudahan tidak meningkat lagi,” kata Ketua IDAI Dr. Piprima Basara Januars.

Salah satu gejala umum penyakit ini adalah anak tidak buang air kecil secara alami atau lebih sedikit buang air kecil. Selain itu, 44 persen pasien juga mengalami infeksi, seperti diare. Selain itu, anak-anak positif Covid-19 sebanyak 38 persen dan negatif 31,6 persen. Sedangkan 29 persen lainnya belum dites.